Secukupnya.

photo(10)

Minggu pagi warungnya masih sepi, suaminya bolak-balik memeriksa tanaman di halaman rumah mereka, rumah yang mendekati istana ini. Dulu, menantunya menginginkan istri yang mempunyai hidung indah, mancung. Tetapi akhirnya, pemuda dengan prestasi yang lumayan mengagumkan itu berhasil dijebak perempuan yang mungkin mempunyai kepribadian yang lebih indah daripada sekedar bentuk hidung yang condong kedepan. Cucu perempuan tua yang sedang membaca buku ini diberi nama Zaky, entah ide siapa – mungkin ayahnya ngefans sama saya seperti saya juga ngefans sama dia, yah anggap saja begitu. di suatu akhir pekan bulan lalu di sebuah mall seorang anak laki-laki kecil lari memeluk kaki saya dari belakang ‘Om Zaky..’ katanya sambil melihat keatas, dibelakangnya sepasang suami istri berlari kecil mengejar mengikuti. Setelah itu om zaky dan ayahnya berbincang sejenak, membicarakan bill untuk royalti atas nama anaknya. HAHAHA.

Pas ditanya kenapa hidung istrinya tidak mancung, abang yang ketemu diperantauan – yang mengajarkan banyak hal ini menjawab ‘hidung mancung aja nggak cukup, atau tidak harus mancung juga udah cukup..’, jadi menarik karena kebetulan baru baca tulisan dengan tema ‘secukupnya’ di linimasa.

Mimpi.

Sekarang, kadang hal pertama yang coba di ingat waktu bangun pagi adalah: tadi mimpi apa ya?

Beberapa yang berhasil ingat:
Aku datang ke sebuah rumah lalu sebelum masuk ngobrol dengan seorang perempuan setengah baya yang bercerita beberapa hal buruk tentang orang yang mau aku temui di dalam. setelah masuk ke rumah dan menemui orang yang di cari, aku memandikan orang tersebut. bugil, mungkin kalo bangun lebih lama akan mimpi basah. orang itu perempuan, aku belum mengembalikan cincinnya. terakhir jumpa aku bohong, dia tanya ‘mana cincin?’, aku jawab ‘nggak bawa..’, padahal ada di tas – selalu dibawa dilaci dalam, sekarang teletak di kamar. datang di mimpi mau mengambil cincin ya? waduh..

Lalu yang teringat, mimpi ada yang datang berkunjung, duduk disamping aku tidur, dan merapikan kamar. suasana dan kamar menjadi menyenangkan sekali. perempuan di mimpi itu, ditinggal sebentar ke kamar mandi kamar langsung berubah rapi, luar biasa. hahaha..

Dan tadi pagi bangun dengan mimpi teman lama dan ular. dia (teman lama) awalnya duduk di teras rumah, dan saat aku bukain pintu ada ular masuk, tidak terlalu besar, berwarna hijau berkilat atau biru/kuning kalo gak salah. aku kejar ular itu sampai ke dapur, dan berhasil membunuh ular tersebut.

Kemarin di twitter sempat ngefavorite-in tweet ini:

photo (3)

Btw, kamu mimpi apa? Mimpiin aku dong!

Oh, malaikat.

Saya dikunjungi seorang teman lama, di ‘ruang’ kerja saya – di sebuah coffee shop itu kami bertukar cerita serabutan. Sambil menunggu kopinya, ia membuka pembicaraan: ‘Beberapa hari yang lalu aku ketemu malaikat’.

Jari-jari saya yang sedang mengetik kencang di keyboard langsung berhenti, sisa pekerjaan saya putuskan untuk dilanjutkan setelah misteri malaikat ini terpecahkan. ‘Hah, ketemu malaikat? Maksudnya?’ saya bertanya.

‘Ini gara-gara sakit gigi. Akhirnya aku kedokter karena udah nggak tahan lagi..’ teman saya mengaduk gula dalam kopinya, mulai bercerita.

‘Terus?’ tanya saya penasaran.

‘Dokternya masih muda, dia tanya keluhananku apa.. Aku cuma jawab dengan isyarat nunjuk gigi bagian dalam dengan jari telunjuk karena untuk ngomong pun udah nggak sanggup, sakit kali..’ teman saya lalu meneguk kopinya.

‘Terus malaikatnya dimana?’ kejar saya penasaran.

‘Jadi sambil mencatat permasalahan gigi ini, memberi nasehat dan menulis resep obatnya, dia bersuara pelan – Tuhan, jangan beri saya pasien lagi..’, jawabnya menjelaskan.

‘Ooooh..’ respon singkat saya sambil berpikir.

‘Perempuan dengan paras juga penampilan menarik, dokter yang takut berdoa meminta banyak pasien, itu malaikat kan ya? HAHAHA’ teman saya bertanya dengan serius sambil tertawa.

Saya ikut tertawa, HAHAHA. Lalu memanggil pelayan, memesan kopi lagi.

semoga hari kamu menyenangkan!

kemarin malam saya mengirim sebuah email sebelum memeluk guling dan tertidur pulas. paginya saat sarapan email tersebut dibalas dengan kalimat penutup seperti judul postingan ini.

dan seperti doa, seharian saya terus tertawa, ada saja hal yang menyenangkan.

yang membaca ini, saya ingin meneruskan doa itu: semoga hari kamu menyenangkan! :)

Omong-omong..

Saya akan menulis apa-apa yang sedang saya lakukan saat ini. Ini janggal, sebab tentu saja sebagai diri saya sendiri saya tahu apa-apa yang saya lakukan. Tapi tidak mengapa, anggap saja ini sebagai cara saya untuk mengisi waktu luang, pekerjaan terkadang terlalu menyenangkan.

Saya sedang melakukan sebuah perbuatan, yang hingga saat ini tidak berpengikut. Saya mampu mengerjakan segala yang tak berguna bagi orang lain, bahkan bagi diri saya sendiri. Ada yang bilang sebagai manusia jika tidak lebih baik setidaknya berbeda, hahaha saya tertawa. Akhir-akhir ini, juga sejak lama, saya seringkali secara mendadak muak dengan kebiasaan orang menggambar-besarkan dirinya, mungkin sama seperti saya, kita terlalu berusaha untuk menjelaskan apa-apa, padahal omong kosong.

Permasalahannya adalah omong kosong selalu menjadi pemenang setelah bertemu dengan saya, mungkin juga dengan siapapun, dan ini random saja, saya tidak bermaksud menulis ini untuk itu. Tidak ada pelajaran moral dari sini, juga tidak ada pembelaan yang semakin dicari-cari, dan jika anda pikir saya sedang melakukan tudingan kekecewaan terhadap manusia lain maka anda sedang membaca di tempat yang salah. Saya bukan seperti mereka yang terus-menerus mengabarkan kebenaran, juga saya bukan mereka yang terus-menerus mengabarkan keburukan. Bukankah keduanya, dari sudut ini, selalu terlihat bersama-sama sedang mengejek cara berpikir manusia. Maaf, saya (selalu berusaha) tidak seperti itu.

Saya merasa bahwa keyakinan saya bisa demikian cepatnya berubah dan tak menentu, seperti cuaca dan musim-musim ini. Kesulitannya memang pada kenyataan bahwa seluruhnya seolah-olah sedang menyusun sebuah dunia pengertian yang lengkap, dan saya diberi hak untuk mereka-reka kemana semuanya akan berakhir. Padahal, sebagaimana yang kini terjadi, sesampainya kita disini, didunia yang fana ini, ternyata dunia pengertian itu sialan. Selama ini satu-satunya hal yang terlakukan adalah menyusun banyak sesuatu yang seolah-olah berarti sesuatu yang banyak, selebihnya bisa jadi hanya sekedar omong kosong.

Oh iya, btw nih, omong-omong, kamu sedang melakukan apa?

Hmm, kalo random nggak gitu juga kali cuy..

Ia sedang merencanakan sebuah perjalanan tanpa tujuan. Persis hidupnya. Pernah di sebuah majelis ia dihantam banyak pertanyaan hanya untuk sebuah jawaban, bagaimana ia menjalani hidupnya, apa yang ingin ia tuju. Sambil mencoba menghibur diri dengan penuh percaya diri – ia berpikir mungkin yang bertanya ingin punya hidup seperti dirinya, atau paling kalau meleset – mereka yang telah berbaik hati meluangkan waktunya untuk bertanya itu dihadirkan tuhan untuk menyadarkan: kalau sebenarnya ia bisa hidup sebagaimana semestinya. Dan apapun itu, untuk pandangan buram sekalipun, orang-orang tersebut pantas menerima ucapan terima kasih.

Sudah lama ia tidak mempunyai pekerjaan. Oh di ralat, belum pernah ia mempunyai pekerjaan. Ada, tetapi dianggapnya bukan pekerjaan. Bagaimana ia menganggapnya bukan pekerjaan? Mudah saja, saat ada yang bertanya ‘Jadi sekarang lagi sibuk apa?’ Jawabannya selalu tidak memuaskan yang memberi pertanyaan, walaupun mereka tekun mendengar bahkan sambil mengangguk-anguk-kan kepala. Atau mungkin ia pernah punya pekerjaan, tetapi yaitu tadi – ia dapat merasakan siapapun dengan penuh kesadaran berkesimpulan: Ah itu bukan pekerjaan. Ya sudah, yang penting ia tidak sedang menipu, juga tidak sedang minta dipercayai oleh siapapun.

Perjalanan tanpa tujuan itu di mulai. Sehabis subuh, kesal ngantuk belum juga tiba ia memutuskan menuju bandara. Bandara tempat paling sedih di dunia, ia pernah membaca tulisan tentang itu dan ia setuju, sekarang ia merasa harus berkunjung kesana.

Membeli tiket kereta menuju bandara merupakan uang keluar yang lumayan untuk seorang yang tidak mempunyai pekerjaan. Hahaha, dia tertawa dalam hati, menertawakan diri sendiri – juga menertawakan orang-orang disekitarnya: orang-orang berpakaian rapi lengkap dengan tas kerja dan tas pakaian. Dari wajah-wajah kantuk dan kaku itu, seolah tergambar kalau hidup mereka sudah terbeli oleh tiket penerbangan yang mereka simpan di email atau kantong baju. Hahaha, kembali ia tertawa dalam hati, tawa yang menghakimi.

Di kupingnya mengalun lagu Creep-nya-Radiohead, lagu yang dipercaya siapapun yang nyaman dengan lagu tersebut pasti hidupnya bermasalah. Ia tidak berbicara dengan siapapun di kereta tersebut, dengan mengecilkan volume suara mp3 di handphone-nya ia sempat menguping pembicaraan tetangganya: ‘saya akan sampai 3 jam lagi, kamu siap-siap ya, kita tidak akan keluar kamar seharian’ dilihatnya seorang pria tua berpakaian dinas dibalut jaket cokelat sedang menelepon dengan produk terbaru keluaran apple. Kamu tau apa yang ia pikirannya saat itu? Sebenarnya ia tidak berpikir, hanya membayangkan kecewanya para pembayar pajak yang uangnya dipakai untuk biaya selingkuh pejabat negara. Sejak mendengar perbincangan tersebut ngantuk kompak tiba bersama lapar, ia memutuskan coffee shop bandara adalah tujuan berikutnya.

Di kedai kopi bermerek internasional itu ia memesan kopi paling murah tanpa gula dan sepotong cake rasa alpukat yang membuat ngantuknya seketika hilang – pesanan tersebut harus di tebus dengan harga yang sangat lumayan bagi seorang yang tidak mempunyai pekerjaan. Di aduknya cairan hitam itu, di sedunya perlahanan, saat bibirnya menyentuh bibir gelas ia melihat bayangan wajahnya disana, rasanya pahit, pahit sekali.

Diletakkannya kembali cangkir kopi itu di meja, ia harus menghemat tegukannya, kopi mahal itu – bila tidak sabar – dalam hitungan matematika cukup 10 tegukan menghabiskannya. Pandangannya lalu menyebar, kepalanya mulai membangun cerita tentang manusia-manusia yang ada di warung kopi internasional itu. Duduk dipojok belakang ada seorang anak muda, jaket merah ketat dengan jeans koyak dilututnya. Dengan mudah ia coba memberi identitas kepada anak muda tersebut: hidup bersama orangtua yang kaya raya, sekarang ia sedang ogah-ogahan menempuh perjalanan untuk kuliah, atau sebagai wisudawan baru ia mungkin sedang ada panggilan tes untuk mencoba peruntungan di luar kota. Atau laki-laki yang terlihat sedang resah hatinya itu, sedang menunggu perjalanan menjumpai kekasih hatinya untuk menjelaskan hal yang penting. Selain terlihat resah memikirkan sesuatu, anak muda ini juga terlihat berteman baik dengan smartphone ditangannya.

Di sebelah kiri, selang dua meja ada seorang laki-laki berumur. Kacamata diletakannya di meja, iya memesan air mineral dan beberapa tumpukan kecil makanan, ‘saya tidak bisa minum kopi’ begitu jawabannya saat pramusaji menawarkan apakah beliau ingin mencoba kopi terbaik mereka. Bapak tersebut juga sibuk dengan handphone-nya, ia menghubungi beberapa orang seperti mencoba memastikan banyak hal. Di lihat dari tampilannya, bisa jadi pria tersebut adalah manager di perusahaan multinasional, atau kontraktor proyek dunia akhirat yang sedang mencari mangsa baru, atau pejabat negara calon tersangka KPK, dan juga tidak menutup kemungkinan kalau ia seorang bapak yang akan menempuh perjalanan jauh untuk menjadi wali atas pernikahan putrinya. Dahinya tampak berkerut, pandangannya jauh, lama ia mengusap-usap kacamatanya, sepertinya ada sesuatu yang serius di balik penerbangannya.

Tepat dua meja di depan tampak jelas ada seorang wanita dengan blazzer hitam, rok nya selutut, lipstiknya warna merah tua. Wajahnya cemas. Mungkin pesawatnya harus delay karena alasan teknis, atau ia baru saja menghabiskan malam yang hebat di ranjang barsama selingkuhannya lalu telat bangun dan harus membeli tiket penerbangan yang baru. Atau perempuan itu punya agenda meeting penting di kota yang ia tuju, atau jangan-jangan tadi sewaktu dalam perjalanan yang harusnya menuju kantor ia mendapat kabar duka dan langsung memutar arah menuju bandara. Raut muka perempuan itu menggambarkan kalau sekarang baginya waktu berjalan sangat lambat karena ia tidak mempunyai jet pribadi.

Keriuhan kecil terjadi di sudut coffee shop. Seorang pramusaji wanita menumpahkan pesanan pelanggannya, ia mengulang-ulang permintaan maafnya, dengan cekatan ia membersihkan meja yang kotor karena keteledorannya itu. Tidak lama setelah pesanan diganti, pramusaji perempuan itu dipanggil seorang laki-laki gemulai, mungkin itu adalah bos kecil atau orang yang bertanggung jawab atas operasional serta nama baik kedai kopi mahal ini. Mengejutkan, karena tidak lama setelah perbincangan yang tidak terdengar tersebut, pramusaji perempuan itu dengan pakaian biasa keluar begitu saja – jalan bergegas dengan wajah tertunduk. Apa yang terjadi tadi? Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya ada hal serius yang telah terjadi.

Perempuan itu, mungkin masih kurang tidur, atau tadi sewaktu ganti pakaian kerja di kamar mandi cincin pertunangannya terlepas dan masuk ke lubang toilet – lalu ia menjadi sangat galau, atau laki-laki yang ia sayangi setengah mati tadi malam mengaku kalau ia tidak bisa bercinta dengan lawan jenis, atau tabungan yang selama ini ia kumpulkan baru saja habis karena tertipu undian berhadiah, atau perawannya baru saja rusak semalam, atau jangan-jangan ia sedang merasa bersalah sama tuhan karena tega tidak meluangkan waktu lima menit untuk sejenak sholat subuh karena ia lebih takut telat sampai di tempat kerjanya. Atau ada hal lain? Hanya tuhan, laki-laki gemulai itu, dan ia yang tau.

Tidak berapa lama ada pelanggan baru masuk. Dengan tampang ceria, sambil memesan ia mencoba membangun obrolan dengan membuat celotehan-celotehan garing yang pada akhirnya hanya dibalas senyum sekedarnya oleh kasir kedai kopi mahal ini. Sambil membawa pesanannya menuju meja yang kosong terdengar lagu I Started a Joke nya The Bee Gees menjadi soundtrack pagi perempuan yang masih terlihat muda itu. Gadis itu mengeluarkan sebuah buku dari tas ranselnya, mungkin sejenis buku motivasi dari kesuksesan tokoh-tokoh terkenal, atau buku tentang step by step merakit bom nuklir untuk di terbangkan ke orang-orang yang melukai hatinya, atau mungkin yang dibacanya sebuah novel yang penuh dengan cerita hampa – kisah kasih yang berakhir karena kesenjangan ekonomi atau yang lebih parah: sebuah kisah percintaan tanpa keyakinan untuk hidup bersama.

Atau jangan-jangan sebenarnya hati perempuan itu sedang senang gembira, dan ia sedang mencoba menyebarkannya ke banyak orang. Juga, bisa jadi ia sedang bersenang karena penerbangan yang akan ditempuhnya membawa ia ke kampus idamannya di luar negeri, atau sebuah liburan yang di inginkan banyak orang. Atau ia telah menyakinkan orangtuanya untuk berhenti bertanya ‘kamu kapan menikah?, ia baru saja berhasil lari dari sebuah rencana perjodohan yang tidak menyenangkan. Ya seperti biasa, perempuan memang susah ditebak apalagi cuma dari tampangnya.

Tiba-tiba ada SMS masuk.
Sebut saja orang lain: Dimana cuy? Ngopi yuk?
Ia: Di bandara.. Ini lagi ngopi.. 
Sebut saja orang lain: Wah ngapain? Mau kemana cuy?
Ia: Nggak ngapa-ngapain.. Nggak mau kemana-mana juga..
Sebut saja orang lain: Lah.. Kalo random nggak gitu juga kali cuy..
Ia: Hmm…

Beranjak dari kedai kopi bermerek internasional itu di belinya tiket kereta untuk kembali – meninggalkan bandara yang merupakan tempat paling sedih di dunia. Di rogohnya uang dikantong celana, sisa dua puluh ribu, ‘Ah cukuplah ini untuk makan nasi padang dan sekali minum kopi lagi’ ucap pikirannya dalam hati. Sepanjang jalan di kereta cepat itu hatinya terus bergemuruh: ‘Life is simple, it’s just not easy. Tuhan lindungi aku dari segala yang aku mau, yang aku inginkan namun jauh dari segala kebaikan’.

Semoga, ada, amin.