Potensi Ekonomi Pariwisata di Ujung Barat Indonesia.

Oleh: Achmad Zaky.

Pertama kali menginjakkan kaki di Sabang saya mencoba setenang mungkin, sebagai orang yang lahir dan besar di Aceh aneh rasanya kalau itu adalah kunjungan saya yang pertama ke ‘surga’ paling barat Indonesia. Dari Medan, menuju Sabang bisa di tempuh via udara dan jalan darat. Sejak awal 2015 sudah ada penerbangan langsung dari Kualanamu ke bandar udara Mainun Saleh dengan waktu tempuh sekitar 80 menit, untuk perjalanan darat berkisar 12 jam, waktu selama itu menjadi tidak terasa karena bus rute Medan – Banda Aceh sangat nyaman dan didukung dengan jalan lintas Aceh sangat baik, jadi sepanjang perjalanan penumpang bisa tidur pulas.

Setibanya di Banda Aceh, hal pertama yang saya lakukan adalah sarapan di ‘keude kupie’ dekat Terminal Batoh, saya memesan nasi gurih dendeng Aceh dan segelas Sanger panas. Sanger adalah sajian khas kota “Seribu Warung Kopi” ini, yaitu kopi Ulee Kareng yang dicampur dengan sedikit susu kental manis,  ‘ada yang bilang Sanger itu dari gurauan “sama-sama ngerti”, kalimat yang disampaikan pelanggan kepada penyaring kopi untuk menambahkan sedikit susu di pesanan mereka tanpa menambah harga kopinya’, itu merupakan jawaban dari pelayan warung untuk pertanyaan saya asal mula kopi Sanger. Biji kopi Ulee Kareng biasanya diroasting dengan suhu yang tinggi dimana hasilnya akan menonjolkan rasa pahit, dari sebab itu pula lahir Sanger yang menjadi alternatif bagi yang tidak terlalu suka pahit. Yang khas dari penyajian kopi di Aceh adalah memakai saringan dengan metode ditarik, walaupun sekarang beberapa ‘keude kupie’ khususnya di Banda Aceh sudah mulai menggunakan mesin, karena memiliki kemampuan yang khusus kabarnya para penyaring kopi khas Aceh gajinya tidak jauh beda dengan barista profesional di coffee shop ternama.

Dari terminal bus saya naik becak motor menuju Pelabuhan Ulee Lheue untuk naik kapal cepat menyebrang menuju Pelabuhan Balohan Sabang dengan waktu tempuh 45 menit. Tiba di Pelabuhan Balohan kita bisa melihat banyak mobil-mobil import yang masuk dari Singapura yang digunakan warga setempat untuk mengangkut para wisatawan dan barang dagangan, angkutan yang terkesan mewah. Pelabuhan Balohan terlihat sepi untuk sebuah destinasi wisata seindah Sabang, dari data Badan Pusat Statistik penumpang angkutan laut terbesar terjadi di bulan Agustus tercatat sebanyak 57.295 pengunjung, pelabuhan ini hanya ramai di waktu-waktu tertentu misalnya pada akhir tahun, masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Daerah untuk terus menarik pengunjung dan mempersiapkan diri menjawab persoalan sarana transportasi dan akomodasi yang terjadi saat wisatawan membludak karena setiap tahun terjadi peningkatan 10,5% kunjungan wisatawan mancanegara. Dari data tersebut sebenarnya bila mampu dipertahankan apalagi ditingkatkan akan melebihi target PAD (Pendapatan Asli Daerah), dan bila bisa dipersiapkan dengan baik maka potensinya akan lebih besar lagi.

Sebagai sebuah destinasi wisata, Sabang mempunyai paket wisata yang lengkap. Mulai dari wisata bahari, kuliner, wisata sejarah, dan wisata religi, dan masyarakat yang masih terus mempertahankan identitas, seni, serta budayanya. Secara geografis,  wisatawan lokal dari Pulau Sumatera dan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand menjadi target market yang sangat potensial bagi Sabang, pemanfaat teknologi internet dan promosi melalui social media bila dikemas dengan kreatif akan mampu menjangkau market tersebut seperti yang telah dilakukan destinasi wisata lainnya baik di Indonesia maupun luar negeri. Maka oleh sebab itu yang harus dilakukan selain mempersiapkan saran dan infrastruktur pariwisata, Sabang juga harus merancang dan menjalankan strategi promosi yang terjangkau dan tepat sasaran.

Di pasar tradisional secara kebetulan saya ketemu dengan pedagang sayur, seorang pria tua yang lancar berbahasa inggris karena masa mudanya dulu dihabiskan menjadi tour guide dan menulis tentang Sabang di lonely planet, ‘dulu waktu free port diterapkan di Sabang, pelabuhan dan pasar buka 24 jam, ekonomi masyarakat baik sekali karena Sabang menjadi sangat ramai terutama untuk urusan perdagangan juga para wisatawan dari luar negeri yang mulai merekomendasikan keindahaan alam laut Sabang ke teman-teman di negara mereka’, kakek itu juga menjelaskan kalau saat ini aktifitas di Sabang kembali ke tradisi sebelumnya dimana pasar tradisional akan tutup pada siang hari dan akan buka kembali pada pukul 16.00 WIB setelah waktu Ashar karena para pedagang kembali berladang dan melaut yang sampai sekarang menjadi pekerjaan mayoritas masyarakat Sabang.

Masyarakat Sabang dan Budaya Bahari.

Apa yang terlintas di pikiran semua orang saat akan berkunjung ke Sabang? Pasti keindahan pantai-pantainya. Yang menarik dari Sabang ini adalah dalam menjaga dan melindungi alam serta budayanya mereka masih menggunakan struktur yang telah berjalan sejak masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dan Sultan Samudra Pasai, saya beruntung sempat bertukar cerita dengan salah satu Panglima Laot di salah satu rumah makan Aceh di Jalan Perdagangan, Panglima Laot merupakan struktur adat di kalangan masyarakat Aceh yang bertugas memimpin Persekutuan Adat dan pengelola Hukum Adat Laot, Panglima Laot pada masa lalu merupakan perpanjangan tangan kedaulatan Sultan atas wilayah maritim Aceh. Saat ini, Panglima Laot juga berperan penting terhadap menjaga serta melindungi wilayah kerjanya dari isu-isu kelautan seperti penangkapan dan konsumsi ikan hiu, mereka mempunyai peran penting karena suara dan ketentuan yang mereka buat akan dipatuhi oleh para nelayan setempat. Salah satu Panglima Laot Iboih mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena dedikasinya selama lebih dari 30 tahun memelihara lingkungan dengan cara menanam sekitar 32 hektar pohon mangrove di sepanjangn pesisir pantai Iboih. Tentunya tradisi dan budaya yang sampai saat ini diterapkan di masyarakat Sabang memberi dampak yang sangat positif dan signifikan.

Ragam Pantai di Ujung Barat Indonesia.

Berikut beberapa pantai indah yang wajib dikunjungi di Sabang. Ada Pantai Anoi Itam yang berjarak sekitar 13km dari kota Sabang yang dapat di tempuh  dalam waktu 25 menit menggunakan mobil atau motor, selain daya tarik pasirnya yang berwarna hitam, di Pantai Anoi Itam juga bisa menikmati Wisata Sejarah dengan melihat benteng peninggalan Jepang.

Pantai Sumur Tiga, pantai indah berpasir putih ini terletak di kecamatan Ie Meulee yang bisa ditempuh sekitar 15 menit dari kota Sabang. Disana ada 2 penginapan dengan arsitekturnya menarik dan sangat alami yaitu Fredy’s dan Casanemo, dimana masing-masing memiliki cafe yang langsung menghadap ke Pantai, salah satu tempat yang bagus untuk menikmati sunset. Di sepanjang garis pantai Sumur Tiga terdapat tiga sumur air tawar yang dipenuhi banyak pohon kelapa sehingga membuat pantai ini lebih rimbun, selain keindahan pantai dan sunset kita juga bisa menikmati masakan cita rasa Eropa karena pengelola penginapan tersebut kewarganegaraan asing. Selain di Sumur Tiga, ada pantai Paradiso yang menjadi pilihan tempat untuk menikmati sunset, pantai ini terletak di Jalan Ujung Asam. Untuk traveller yang suka memancing bisa berkunjung ke Pantai Ujung Kareung, dan bila mempunyai waktu luang bisa melihat budidaya ikan Kerapuh di Pulau Klah yang dikelola oleh masyarakat setempat, kabarnya Pulau Klah ini diminati banyak investor dari dalam dan luar negeri. Untuk wisatawan yang mempunyai waktu liburan yang singkat, ada Pantai Kasih yang tidak terlalu besar tetapi tetap mempunyai pasir putih yang indah dan jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Sabang.

Untuk melihat keindahan alam bawah laut, Pulau Gapang dan Pulau Rubiah merupakan pilihan yang tepat. Kedua tempat tersebut menjadi spot favorit untuk diving dan snokerling. Di sekitar Pulau Gapang terdapat banyak penginapan dan tempat penyewaan alat-alat dan pelatihan scuba diving, Pulau Gapang masih sangat alami dimana sepanjang garis pantainya terdapat banyak Pohon Gapang yang menjadi asal nama Pulau Gapang. Untuk sampai di Pulau Rubiah yang luasnya 2500 hektar bisa menyebrang menggunakan kapal kecil yang banyak disewakan di Pulau Iboih, para wisatawan ada juga yang memilih berenang menuju Rubiah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, dan untuk menikmati keindahan alam bawah laut Pulau Rubiah bisa menyewa peralatan diving atau snokerling di Iboih yang biasanya ditawarkan satu paket dengan biaya penyebrangan Iboih – Rubiah – Iboih. Dan bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut Sabang namun tidak ingin ‘berbasah-basahan’ bisa menggunakan perahu khusus yang menyajikan pemandangan bawah laut dari atas lambung perahu, perahu ini merupakan hasil kreatifitas masyarakat lokal.

Kuliner dan Ragam Wisata lainnya.

Di Sabang ada beberapa kuliner yang wajib dicicipi, diantaranya Mie Jalak, Sate Gurita, dan masakan khas Aceh seperti Kuah Plik yang berisi beragam sayuran. Jajanan nusantara juga bisa didapati di Sabang Fair, dan untuk oleh-oleh biasanya para wisatawan pulang membawa buah tangan kue kacang, timpan srikaya, dan dodol Aceh.

Selain wisata bahari dan kuliner, di Sabang kita bisa menyaksikan sejarah masa lalu melalui benteng-benteng Jepang yang sayangnya kurang terpelihara dengan baik. Di Sabang para wisatawan tidak akan kehabisan destinasi, selain pantai dan kuliner ada tempat-tempat wajib dikunjungi lainnya seperti Monumen Nol Kilometer Indonesia yang menjadi tapal batas Indonesia di bagian barat, untuk yang suka wisata adventure bisa mengunjungi Gunung Berapi di Kelurahan Jaboi yang mempunyai kawah putih yang menawan, dan ada juga air terjun tidak jauh dari daerah Pria Laot. “Ada danau juga disini, danau diatas pulau” kata salah satu warga setempat, ternyata di Sabang juga terdapat danau yang disebut Danau Aneuk Laot.

Ekonomi Pariwisata Sabang.

‘Memuliakan tamu adalah adat kami’, sebuah slogan yang telah mengakar di masyarakat Sabang yang majemuk dan terbuka dengan tetap mempertahankan serta melestarikan nilai-nilai tradisi, seni, dan budayanya. Sebagai sebuah destinasi wisata sudah seharusnya memberi dampak perekonomian yang baik bagi daerah dan masyarakat setempat. Saat ini komuditi gula telah bebas masuk ke Sabang, tetapi masih susah untuk di bawa keluar, padahal ini bisa membangkitkan gejolak perekonomian daerah.

Di lihat dari potensi hasil lautnya, seharusnya di Sabang juga dibangun industri yang mendukung industri kelautan seperti pabrik pengelohan ikan yang besar mengingat sebagain besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Di Sabang banyak home industri yang telah melahirkan produk-produk lokal yang baik, kolaborasi dan terobosan antara pengusaha dan pemerintah daerah menjadi penting untuk mengemas serta memasarkannya menjadi sebuah produk menarik yang menjangkau pasar nasional maupun internasional.

Para akademisi juga diharapkan terlibat dalam pengembangan pariwisata Sabang kedepannya untuk memberi masukan rancangan sebuah destinasi wisata yang menarik dan menjual dengan tetap mengedepankan nilai-nilai lokal. Untuk terus memajukan pariwisata dan perekenomian Sabang, pemerintah daerah maupun pusat diharapkan melakukan terobosan melalui kebijakan-kebijakan yang menguntungkan semua pihak, mulai produk hukum yang menjadikan Sabang tempat investasi ideal masa depan yang memberikan insentif menarik bagi para investor, pembangunan infrastruktur jalan, sarana transportasi laut dan airport kelas internasional, sarana perairan serta listrik yang memadai, pembebasan lahan untuk kawasan industri perikanan, sampai kebijakan tentang pengelolaan lingkungan kawasan konservasi yang semuanya telah disampaikan melalui rapat kunjungan Presiden Joko Widodo pada bulan Maret 2015.

Dan pada akhirnya, penerapan konsep ecotourism atau ekowisata merupakan cara langsung yang dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokal. Penerapan ekowisata bisa dilakukan mulai dari pembentukan komunitas-komunitas sadar wisata sehingga masyarakat ikut terlibat mengembangkan serta menjalankan kegiatan-kegiatan pariwisata, cara tersebut juga bisa mengajak masyarakat untuk berperan meminimalisir dampak buruk dari pariwisata. Penerapan konsep ekowisata akan memberi pengalaman yang menyenangkan untuk para wisatawan dan juga masyarakat lokal, dimana harapannya semua pihak akan merasa memiliki Sabang sehingga selain berdampak untuk ekonomi masyarakat dan daerah juga akan memberi dampak posititif untuk pelestarian budaya serta alam konservasinya.

Sabang sudah memenuhi semua syarat untuk menjadi destinasi pariwisata unggulan Indonesia. Sekarang tinggal bagaimana konsep  pentahelix dijalankan dengan baik, dimana sangat dibutuhkan kolaborasi yang erat antara akademisi, pengusaha, komunitas, dan pemerintah.  Sektor Pariwisata dianggap sektor paling siap menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dan di ujung barat Indonesia kita punya potensi luar biasa bernama Sabang. Mari kita dukung terus pariwisata Indonesia!

Yuk bantu Papua!

Di suatu makan siang, Anggi mengabarkan kalo ada temannya yang jadi relawan untuk mengajar di Papua. Kabar yang menghadirkan ketakjuban, menyisihkan umur – tenaga – dan banyak hal menarik lainnya untuk memilih bersusah payah mengenalkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak kecil di Papua. Jauh dari keluarga, teman, juga segala kemudahan.

Salah satu adik, yang dari SMA mendapatkan pendidikan gratis, setelah menyelesaikan beasiswa eropanya tujuan pertamanya adalah mendaftar Indonesia Mengajar. Niat yang sangat baik, yang di keluarga disambut dengan respon ‘coba pikir-pikir lagi..’ dan mencoba untuk memberi masukan yang lebih normal, misalnya menyarankan untuk tetap di eropa untuk bekerja atau lanjut belajar lagi, atau balik ke Indonesia lalu melamar pekerjaan yang jauh lebih seru. Tetapi, dia merasa yang selama ini dia dapat harus dikembalikan, untuk itu dia bersedia hidup setahun di pedalaman Kalimantan. Untuk sampai ditempat itu, setelah mendarat di sebuah bandara kecil dari perjalanan 4 jam di udara dari Jakarta, perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan darat yang kacau selama 20 jam menuju desa terdekat sebelum melanjutkan perjalanan 2 jam lagi naik perahu kecil membelah sungai kapuas menuju tempat dia bertugas. Dia bercerita, pernah tengah perjalanan darat mobil yang mereka tumpangi harus parkir karena jalan yang belum di aspal oleh negara rusak parah tidak bisa dilewati karena hujan, di dalam mobil di tengah hutan itu pemandangannya menarik sekali: hewan-hewan liar. Pemandangan pertama saat memasuki mini bus yang menjadi satu-satunya transportasi darat disana, adalah plastik kresek – untuk menampung muntahan, kabarnya jarang ada yang selamat dari rasa mual dalam perjalanan panjang itu. Pasrah menjadi pilihan satu-satunya bagi seseorang yang tidak bisa berenang saat mengarungi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.

Balik dari Eropa, tinggal di hutan tanpa sinyal, dengan listrik yang hanya bisa di nikmati pada malam hari, dan harus sepenuh hati menjalankan tugasnya disana: mendidik anak-anak terpencil, berbaur dan terlibat di masyarakat Suku Dayak, dan semua kebutuhan sehari-hari harus disiapkan sendiri (karena tidak ada restoran cepat saji, warung nasi padang, atau laundry disana, hahaha). Aku tidak tanya perjalanan seperti apa yang sudah dilewati temannya Anggi menuju pengabdiannya di Papua, tetapi seperti yang kita tau di Indonesia banyak manusia seperti itu: yang memutuskan tidak terus-menerus berkomentar, tidak terus-menerus mencari pihak mana yang harus di salahkan, tidak berputus asa atas semua ketimpangan – kekacauan – ketidakadilan yang terjadi di Indonesia sampai saat ini. Mereka memilih memberikan apa yang bisa lakukan.

Anggi meneruskan cerita, kalau dari temannya itu ia mendapat informasi kalau anak-anak disana sangat kekurangan buku dan alat tulis, mereka hanya punya paling banyak 2 pasang pakaian, dan anak-anak itu tidak memakai pakaian dalam – karena tidak punya. Setelah mencuci pakaian biasanya mereka meletakkannya diatas batu, cara tersebut ditempuh agar jemuran tersebut cepat kering, pakaian yang mungkin ditunggui dalam keadaan (maaf) bugil itu, setelah kering langsung dipakai kembali. Jadi sewaktu ditanya ‘kenapa pakaiannya itu-itu aja? kenapa gak di ganti?’ jawabannya karena mereka tidak punya. Bayangkan saban hari cuma itu yang mereka punya, betapa hidup kita sangat jauh lebih baik dari mereka.

photo 5 (16)

photo 4 (13)

photo 3 (16)

photo 2 (13)

photo 1 (18)

Papua kaya raya? Freeport kapan angkat kaki dari sana? Di sekitar kita masih banyak yang harus di bantu? Negara kemana aja, kok masyarakatnya menyedihkan sekali? Pemerintah daerah ngapain aja? Permasalahan Palestina dan Israel kenapa belum kelar-kelar juga? Kenapa angka populasi jomblo stagnan bahkan cenderung meningkat?

Mari sambil mencicil jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kita mengumpulkan pakaian yang masih layak tetapi sudah tidak terpakai, uang ke bioskop atau ngopi di starbucks minggu ini mari di sisihkan sedikit untuk kita patungan beli buku dan alat tulis – beli pakaian dalam – lalu mengirimkannya ke Papua. Nanti saat sumbangan kita tiba disana, pasti mereka bahagia karena akhirnya tau kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya pakaian dalam – yang bentuknya segitiga itu. Hal sederhana bagi kita, tapi kemewahan bagi mereka.

Dan, untuk kebaikan-kebaikan yang mau disumbangkan ke adik-adik di Papua tersebut, kamu bisa langsung kontak Anggi (via line: anggigurning), atau bila ingin bertanya lebih mendalam bisa hubungi Tika Barus di 081360073720.

Ada sekitar 300 anak-anak Papua yang menunggu kebaikan hati kamu. Yuk #BantuPapua.

Kamis yang manis!

Menyenangkan dapat ucapan terima kasih di pukul setengah dua dini hari.

Menyenangkan bisa membantu pekerjaan teman yang berhubungan dengan bisnis teman yang lain, yang berakhir dengan adil. Sesederhana: memastikan ada barang – ada harga, diwaktu bersamaan. Ada pembelajaran baik disini, pada akhirnya aku yang berterima kasih.

photo (4)

Menyenangkan bisa melakukan perjalanan terjauh selama merantau ke medan, berkunjung ke negera Marelan, hahaha! Menemani teman ngopi melakukan survey untuk project-nya. Totalitas dan etos kerjanya patut untuk ditiru.

Walau berakhir dengan zonk, tetap dibawa senang juga dua kali ke bank untuk membantu mencairkan duit pekerjan teman-teman yang lain. Jumat mudah-mudahan menjadi hari yang baik buat mereka.

Kamis pagi di mulai dengan mengirimkan paket pesanan likemyself dan setelah menyantap sop kambing hari berakhir di omerta dengan tidak sengaja ketemu teman-teman sekolah dulu. Sekolah mahal itu mungkin pada akhirnya tidak memberi apa-apa selain perteman yang erat, jaringan yang luar biasa, keberuntungan, dan cerita-cerita yang selalu menyenangkan untuk di ulang. Wah, ternyata mahal juga yang diberi sekolah itu.. :))

Ada Anggi, Irvan, dan Bang Dedenk yang terlibat hari ini.

Thank you for doing what you do, and for pouring your heart into it today.

Secukupnya.

photo(10)

Minggu pagi warungnya masih sepi, suaminya bolak-balik memeriksa tanaman di halaman rumah mereka, rumah yang mendekati istana ini. Dulu, menantunya menginginkan istri yang mempunyai hidung indah, mancung. Tetapi akhirnya, pemuda dengan prestasi yang lumayan mengagumkan itu berhasil dijebak perempuan yang mungkin mempunyai kepribadian yang lebih indah daripada sekedar bentuk hidung yang condong kedepan. Cucu perempuan tua yang sedang membaca buku ini diberi nama Zaky, entah ide siapa – mungkin ayahnya ngefans sama saya seperti saya juga ngefans sama dia, yah anggap saja begitu. di suatu akhir pekan bulan lalu di sebuah mall seorang anak laki-laki kecil lari memeluk kaki saya dari belakang ‘Om Zaky..’ katanya sambil melihat keatas, dibelakangnya sepasang suami istri berlari kecil mengejar mengikuti. Setelah itu om zaky dan ayahnya berbincang sejenak, membicarakan bill untuk royalti atas nama anaknya. HAHAHA.

Pas ditanya kenapa hidung istrinya tidak mancung, abang yang ketemu diperantauan – yang mengajarkan banyak hal ini menjawab ‘hidung mancung aja nggak cukup, atau tidak harus mancung juga udah cukup..’, jadi menarik karena kebetulan baru baca tulisan dengan tema ‘secukupnya’ di linimasa.

Mimpi.

Sekarang, kadang hal pertama yang coba di ingat waktu bangun pagi adalah: tadi mimpi apa ya?

Beberapa yang berhasil ingat:
Aku datang ke sebuah rumah lalu sebelum masuk ngobrol dengan seorang perempuan setengah baya yang bercerita beberapa hal buruk tentang orang yang mau aku temui di dalam. setelah masuk ke rumah dan menemui orang yang di cari, aku memandikan orang tersebut. bugil, mungkin kalo bangun lebih lama akan mimpi basah. orang itu perempuan, aku belum mengembalikan cincinnya. terakhir jumpa aku bohong, dia tanya ‘mana cincin?’, aku jawab ‘nggak bawa..’, padahal ada di tas – selalu dibawa dilaci dalam, sekarang teletak di kamar. datang di mimpi mau mengambil cincin ya? waduh..

Lalu yang teringat, mimpi ada yang datang berkunjung, duduk disamping aku tidur, dan merapikan kamar. suasana dan kamar menjadi menyenangkan sekali. perempuan di mimpi itu, ditinggal sebentar ke kamar mandi kamar langsung berubah rapi, luar biasa. hahaha..

Dan tadi pagi bangun dengan mimpi teman lama dan ular. dia (teman lama) awalnya duduk di teras rumah, dan saat aku bukain pintu ada ular masuk, tidak terlalu besar, berwarna hijau berkilat atau biru/kuning kalo gak salah. aku kejar ular itu sampai ke dapur, dan berhasil membunuh ular tersebut.

Kemarin di twitter sempat ngefavorite-in tweet ini:

photo (3)

Btw, kamu mimpi apa? Mimpiin aku dong!

Oh, malaikat.

Saya dikunjungi seorang teman lama, di ‘ruang’ kerja saya – di sebuah coffee shop itu kami bertukar cerita serabutan. Sambil menunggu kopinya, ia membuka pembicaraan: ‘Beberapa hari yang lalu aku ketemu malaikat’.

Jari-jari saya yang sedang mengetik kencang di keyboard langsung berhenti, sisa pekerjaan saya putuskan untuk dilanjutkan setelah misteri malaikat ini terpecahkan. ‘Hah, ketemu malaikat? Maksudnya?’ saya bertanya.

‘Ini gara-gara sakit gigi. Akhirnya aku kedokter karena udah nggak tahan lagi..’ teman saya mengaduk gula dalam kopinya, mulai bercerita.

‘Terus?’ tanya saya penasaran.

‘Dokternya masih muda, dia tanya keluhananku apa.. Aku cuma jawab dengan isyarat nunjuk gigi bagian dalam dengan jari telunjuk karena untuk ngomong pun udah nggak sanggup, sakit kali..’ teman saya lalu meneguk kopinya.

‘Terus malaikatnya dimana?’ kejar saya penasaran.

‘Jadi sambil mencatat permasalahan gigi ini, memberi nasehat dan menulis resep obatnya, dia bersuara pelan – Tuhan, jangan beri saya pasien lagi..’, jawabnya menjelaskan.

‘Ooooh..’ respon singkat saya sambil berpikir.

‘Perempuan dengan paras juga penampilan menarik, dokter yang takut berdoa meminta banyak pasien, itu malaikat kan ya? HAHAHA’ teman saya bertanya dengan serius sambil tertawa.

Saya ikut tertawa, HAHAHA. Lalu memanggil pelayan, memesan kopi lagi.