pilihanku

I’m unplugged for noting this, about you. more people need to know this, how my heart has become yours.

tibalah kita di hari ini, di janji yang sudah lama kita tunda karena hal-hal yang diluar kuasa kita. aku menempuh perjalanan yang jauh dari tempat pertama kita bertemu, kota yang sudah ku singgahi beberapa kali, kota tempat kamu beraktifitas kini.

aku sudah mengikat kencang sabuk pengaman saat langit masih gelap, aku memilih penerbangan terpagi, karena aku tau tidak susah menahan kantuk bila alasannya adalah kamu. aku tidak sabar, ingin berteriak di ujung telepon, membangunkanmu, hey bangun! aku sudah disini, menunaikan janji’. aku ingin segera bersamamu, ingin segera melihatmu, dirimu yang dulu, selalu seperti yang dulu – seperti yang aku ingat, paras teduh yang selalu ingin aku jumpai di setiap pagi, tanpa perlu mandi apalagi berdandan rapi.

aku menunggumu, duduk di kursi panjang bandara. darahku yang cair tiba-tiba mengental, beku, jantungku tak lagi kuat memompanya, nafasku tertahan – saat dari kejauhan aku melihat kamu turun dari sebuah taksi, melambaikan tangan sambil berlompat kecil. kamu dengan sepatu kets, jeans biru, dan baju oblong putih kebesaran yang bertulis ‘I don’t care’, sungguh membuatku mati sesaat.

masih terlalu pagi, kota besar ini masih sepi, dan kita memang hanya ingin merasa berdua saja. setelah berpelukan yang panjang (tanpa satu katapun), setelah nafas rindu berhembus pelan (di sela-sela genggaman), kita pun berjalan dalam kebahagian, melangkah dengan menghirup udara sejuk yang memberi kedamaian.

kita lalu sarapan, hal yang jarang kita lakukan jika hanya seorang diri. mampir di coffee shop, memesan setengah lusin blueberry scone – segelas caramel machito – dan segelas hot chocolate, memesan kepulan kebahagian. aku bilang, ‘aku jatuh hati padamu’. kamu tersenyum, iya, aku tau’ jawabmu. sempurna sudah hidangan kebahagian pagi ini, perlahan kitapun tenggelam dalam hati yang meluap-luap.

‘aku pikir kita tidak perlu lama lagi untuk benar-benar bersama, kira-kira apa yang belum kamu ketahui tentang aku’ aku bertanya, hmm, apa ya? aku sepertinya sudah tau banyak tentang kamu, dan hari-hari kedepan akan memberiatahu semua yang belum aku ketahui. aku akan menerimanya, yang sudah maupun yang belum, mulai detik ini sampai nanti, sampai aku mati’, balasmu sambil melihat ke dalam mataku. aku melayang, dadaku serasa lapang, ‘sekarang bila aku meminta Tuhan menakdirkan satu tulang rusukku di titipkan di dadamu, apa kamu bersedia?’ tanyaku lagi. ‘aku bersama Tuhan sudah memutuskan bahwa satu tulang rusukmu itu ada padaku, dengan seluruh keimananku, aku menerima takdir itu’.

kitapun kasmaran, dengan senyum termanis berjalan berangkulan pinggang menuju deretan taksi, bergegas meninggalkan tempat yang mulai ramai. diperjalan dalam taksi, melalui radio yang bervolume kecil samar-samar terdengar;

maukah kau untuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku… maukah kau untuk menjadi yang pertama, yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata... – maliq d’essensial.

Tuhan, kenapa kami bahagia akan hal-hal yang sederhana seperti ini?


One thought on “pilihanku

  1. Pingback: Tweets that mention maukah kau untuk menjadi pilihanku : kutaraja.net -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s