Kalian.

Untuk kalian, beberapa Perempuan.

Hari ini beberapa tahun yang lalu. Mungkin kamu masih ingat ketika hujan reda dan kita duduk dibangku yang masih basah. Kita tidak menunggu pelangi, kita tidak meminta angin dingin, kita juga tidak terganggu dengan orang-orang yang berlalu lalang didepan kita. kita saling mengaitkan jari kelingking, sebagai sebuah pertanda kita sudah bersama.

Kamu juga mungkin masih ingat. Sore hari, matahari perlahan pergi saat kamu gugup menerima semua yang aku pertaruhkan untuk meminta hatimu. Pipimu memerah, langit merona, guntur hadir disela-sela kita saat aku tidak bisa menjawab mengapa aku bisa menyukaimu. Ah, andai aku tau jawabannya, tak akan hatiku mati seperti ini. Benar saja, mungkin sampai saat ini aku masih berharap kamu yang mencuri satu tulang rusukku itu.

Tentang ini aku samar-samar mengingatnya. Kita hampir bersama, dan kita hanya dikalahkan oleh waktu. Padahal kita belum memainkan satu babak pun, kamu berpendapat bahwa siapapun boleh menjadi kekasihmu, jadi siapa yang mendahului siapa tetap sama saja, sedang kupingku tidak kuasa mendengarnya. Kamu terlepas layaknya layang-layang, tanpa ada yang mengulur, tanpa ada benang yang merajut.

Ini ada dibagian paling dalam, di ingatanku. Bahwa rasa suka itu dibentuk oleh hal-hal sederhana, bahkan di usia yang sangat kecil untuk mengerti masalah hati. Kamu satu-satunya jejak yang tak kunjung ku dapati, baik di dunia nyata – ataupun dunia maya. Aku masih menyimpan namamu, dengan lengkap, hanya wajahmu yang terhapus, wajahku selalu tertunduk lesu bila berusaha mengingat tentang itu.

Yang aku ingat kamu sering menangis karena hal-hal aneh tentang perasaan. Aku menduga kalau Tuhan membentukmu dari kapas; putih, halus, lembut, dan langka. Kita bisa berdiskusi tentang apa saja, membicarakan hal apapun, juga tentang masing-masing kita, tetapi kita tidak pernah mencoba menjadikannya berjalan bersama-sama. Hanya membagi senyum, dan saling mengucapkan selamat berjuang. Kita di perang yang sama, melawan diri sendiri, dan sama-sama kalah.

Kamu. Kamu yang terbaik menyambutku. Kamu menjadi satu penyesalan didalam hidupku yang parah ini. Mengabaikan keinginan hati, lalu menempuh jalan lain, yang sama sekali bukan hal yang manis untuk di ingat. Mulai milidetik pertama saat kita berbicara, sampai detik ini, lesung pipimu tetap membentuk lubang abadi di hatiku.

Tentang kamu. Aku ingat betul banyak laki-laki yang saban waktu mengganggumu, mereka putus asa, sampai sering membuatmu menangis. Hidungmu adalah bentuk terbaik yang pernah dibuat Tuhan, hanya untuk perempuan sepertimu. Kamu pergi tanpa memperdulikan apapun, menghilang di kesendirian, kini yang ada hanya ingatan tentang tetes air mata yang tiada satupun tangan berkesempatan mengusapnya.

Kamu malaikat. Kamu perempuan impian setiap laki-laki. Melihatmu adalah kenangan yang berjalan, yang terus menjadi bagian terbaik dari hidup ini. Aku hanya merasa tak pantas saja, hanya yang benar-benar membuat patah hati. Kepadamu, aku bersedia menukar apa saja, meninggalkan semuanya, yang cukup diganti dengan kamu dihari-hariku. Kamu satu-satunya, yang hanya berani aku minta kepada Tuhan, dimana akhirnya aku tau kalau doa kita tidak bertemu.


2 thoughts on “Kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s