mendung

tidak benar kamu bisa membeli semuanya, apalagi cuma dengan uang yang kau punya. mungkin kau tak percaya, tapi ini terjadi beberapa malam yang lalu saat aku punya uang – juga punya waktu luang, saat aku ingin duduk melamun sambil memesan secangkir kopi hitam (kabarnya ada kopi putih, tapi mulutku belum pernah ketemu dengannya).

‘maaf, tempatnya penuh..’, 

‘aku hanya butuh satu bangku..’,

“iya sekali lagi maaf, sedang penuh..’, ujar pelayan yang selalu ramah itu.

jadi kau harus tau, sebenarnya bukan soal hal-hal yang bisa di bayar, atau di beli, tapi soal ketersediaan, ada atau tidak. ini mungkin terlihat berlebihan, apalagi di gambarkan hanya untuk melamun sambil minum kopi, tapi nyata ini terjadi. kita butuh tempat.

kau mau melamun di tempat ramai? di tempat banyak orang tertawa (bahkan terbahak-bahak)? di tempat dengan musik yang terus menyanyikan lagu-lagu indah sekaligus menghancurkan? iya, menurutku melamun itu seperti berdoa;  bisa dimana saja, kadang di hati – di pikiran – di dalam kegelapan mata – dalam gerak mulut – di tengah terik matahari – di dinginnya hujan – dalam senyuman – dalam kedipan mata – dalam sebuah tatapan jauh. terserah kau sedang mengerjakan apa, sedang bersama siapa. baik sendiri, ingin sendiri, ataupun merasa sendiri – di keramaian.

di kedai kopi lain akhirnya aku duduk. gelas yang dipenuhi air hitam itu mulai ku aduk, satu sendok gula mulai bersatu ke dalam rasa pahit. aku mulai melihat kamu dengan senyum penuh duduk di depanku, sambil menggigit bibir bagian bawah, gigi atasmu terlihat rapi. aku membalas senyummu, pipiku merenggang, mataku megap-megap menerima pantulan cahaya dari keningmu.

jiwaku mendatangimu. melihat jauh ke dalam matamu, dengan teliti memandangi mukamu yang lembut – alis tebalmu yang tersambung halus, lalu turun ke lekukan hidungmu yang mengantar matuku jatuh kembali ke bibirmu yang tipis. aku coba mencari tempatku di kamu.

lalu dengan perlahan kamu menurunkan keningmu, sebagai pertanda dan aku langsung menyambutnya dengan memberikan cetakan bibirku tepat di tengahnya. tanganku menjangkau rambutmu yang hitam, mengusapnya sambil melihat kelopak matamu yang perlahan tertutup, ada air yang turun di kedua belah pipimu.

‘maaf ini bill-nya, kita sudah mau tutup..’,

‘ooh..’, balasku kaget, sambil merogoh kantong dan memberikan selembar uang biru.

aku tersadar, dan kamu kembali hilang.

sesaat yang sama, di udara mengalun sendu, bagaimana mungkin kamu tak akan segera menangis, sepertimu lah langit kini, tertunduk pilu dalam mendung..” – the vuje.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s