tepuk tangan

di undangan tertera nama presiden republik indonesia, bertempat di sebuah convention hall besar di ibu kota, para tamu di wajibkan memakai batik bawahan hitam. tapi pagi itu penjagaan tidak seketat tahun sebelumnya, tidak terlihat pasukan TNI menyusup sampai ke belakang panggung, pemeriksaan hanya beberapa lapis, tidak memakan waktu lama untuk sampai di bangku yang telah di atur oleh panitia. acara di mulai, di buka oleh multimedia yang wah dipadu dengan profil anak muda yang mewakili beberapa wilayah, pembawa acara menyampaikan bahwa presiden dan wakilnya berhalangan hadir dan digantikan oleh menko perekonomian, beberapa menteri, dan pejabat lainnya. sampailah pada kata sambutan presiden yang di wakilkan, dengan narasi cepat beliau menyampaikan pesan tertulis dari presiden, lalu setelah itu masuk ke ‘kata sambutan’ beliau pribadi, mewakili kementerian yang ia pimpin. dengan semangat, dengan wajah berseri-seri (dan sedikit terlihat angkuh) beliau menguraikan data, bercerita tentang program, mengatakan keberhasilan-keberhasilan yang ia pimpin. suasana adem ayem, sampai dimana ia sedikit berteriak ‘tepuk tangan dong untuk program-program saya!’ dan tiba-tiba gemuruh tepuk tangan menggema, tidak banyak, tepuk tangan itu hanya dari orang-orang sebayanya, dari teman-temannya di kementerian, atau pejabat-pejabat yang berada di bawah struktur kerja, dari pemimpin atau perwakilan banyak perusahaan yang (mungkin) mau tak mau ikut memberi penghargaan untuk sang menteri. selebihnya, yang hadir disitu, yang lebih muda seperti yang duduk dileretan kami lebih memilih melipat tangan, berdiam saja tidak bergeming, teman disebelah dengan spontan mengumpat ‘yaelah, lo kemana aja men? kagak liat apa tuh orang miskin dimana-mana! taik..’, tak lama calon besan presiden itu turun, pembawa acara meminta hadirin memberikan tepuk tangan (lagi), kembali suara terdengar dari bagian tengah, bagian yang banyak terlihat rambut putih disana.

acara seremonial selesai. seorang panitia mendatangi kumpulan kami mencari seseorang, katanya seorang menteri ingin bertemu dengannya. lalu dari jauh terlihat sang menteri mengulurkan tangan, dia juga memperkenalkan beberapa orang yang berdiri di sekitarnya, tidak lama setelah itu beliau meninggalkan teman kami berbincang dengan orang-orangnya beliau, saat teman itu balik ke kami dia dengan sumringah berkata di undang main ke kantor pak menteri, ‘beliau punya program yang mungkin gue bisa ikut bantu di dalamnya, tadi stafnya udah ngomong sepintas, seneng gue, merasa tersanjung kayak gini..’, lalu suasanya sedikit riuh ‘asyik, selamat dong..’ semuanya senang, memberi selamat. temen kami itu mempunyai usaha di bidang pembibitan ikan, walau aktifitas usahanya hanya terekam di beberapa buku tulis dengan angka-angka yang ditulis dari pensil tapi dia telah berhasil memberdayakan penduduk setempat dan lahan yang selama ini terlantar tidak dipakai. usahanya jauh dari itung-itungan seperti pak menteri berambut putih tadi, pembukuannya hanya memakai buku tulis yang di kerjakan oleh masyarakat yang hanya mengenal angka dan huruf, bukan orang-orang yang mengecap pendidikan tinggi, sangat sederhana jauh dari cerita-cerita hebat bapak menteri perekonomian.

lain cerita. di suatu pagi, selang beberapa waktu dari acara di ibu kota itu aku duduk manis di sebuah ruangan di kampus, agenda harinya adalah mendengar ‘orasi ilmiah’ dari seorang menteri. beliau sudah tiba jauh sebelumnya porsinya tampil, sesekali beliau terlihat meladeni beberapa pejabat kampus yang mengajaknya berbicara, terlihat juga beberapa pejabat dan tokoh masyarakat sumut datang menghampiri beliau bersalaman. saat beliau di perkenankan tampil, perlahan yang hadir mulai di bawa masuk persoalan-persoalan yang muncul maupun tidak muncul ke permukaan (dibaca: media), beliau menyuguhkan data, menjelaskan tindakan apa yang telah dilakukan, mempresentasikan mana yang berhasil, yang gagal, mana yang harus ditindaklanjuti, dan hal-hal komplek lainnya, secara detail. suasana adem ayem, peserta sepertinya tidak mudah percaya, kesempatan tanya jawab yang diberikan langsung di sambar bertubi-tubi. dan singkat cerita, seperti tugas akhir yang memang di kerjakan sendiri maka semua yang tersaji di dalamnya, perkata, perkalimat, titik komanya mampu dikuasai dan juga mampu untuk dijelaskan kepada siapa saja, beliau mengusai panggung. secara perlahan beliau di hadiahi tepuk tangan, bukan dari pejabat strukturalnya, bukan dari orang-orang tua sebayanya, tetapi oleh anak-anak muda bernama mahasiswa, yang secara sadar memberi apresiasi atas apa-apa yang telah di sampaikan oleh beliau. setelah acara selesai beliau langsung pamit meninggalkan acara, diluar sebelum bertemu dengan orang-orang dari media sembari berjalan dia menyempatkan diri menyalami beberapa orang, beberapa anak-anak muda tadi yang pedas bertanya, sambil berjalan dia menyalami satupersatu, dia tidak mengatakan apa-apa, tangan kirinya menimpali menepuk-nepuk tangan temannya bersalaman, matanya memandang jauh seolah tidak berhenti bekerja.

ada dua menteri. oleh presiden yang satu diangkat menjadi besan, satunya lagi di lengserkan saat berbesanan dengan rakyat. tapi jelas mereka mendapatkan tepuk tangan dengan cara yang berbeda, oleh orang-orang yang berbeda.

One thought on “tepuk tangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s