Hmm, kalo random nggak gitu juga kali cuy..

Ia sedang merencanakan sebuah perjalanan tanpa tujuan. Persis hidupnya. Pernah di sebuah majelis ia dihantam banyak pertanyaan hanya untuk sebuah jawaban, bagaimana ia menjalani hidupnya, apa yang ingin ia tuju. Sambil mencoba menghibur diri dengan penuh percaya diri – ia berpikir mungkin yang bertanya ingin punya hidup seperti dirinya, atau paling kalau meleset – mereka yang telah berbaik hati meluangkan waktunya untuk bertanya itu dihadirkan tuhan untuk menyadarkan: kalau sebenarnya ia bisa hidup sebagaimana semestinya. Dan apapun itu, untuk pandangan buram sekalipun, orang-orang tersebut pantas menerima ucapan terima kasih.

Sudah lama ia tidak mempunyai pekerjaan. Oh di ralat, belum pernah ia mempunyai pekerjaan. Ada, tetapi dianggapnya bukan pekerjaan. Bagaimana ia menganggapnya bukan pekerjaan? Mudah saja, saat ada yang bertanya ‘Jadi sekarang lagi sibuk apa?’ Jawabannya selalu tidak memuaskan yang memberi pertanyaan, walaupun mereka tekun mendengar bahkan sambil mengangguk-anguk-kan kepala. Atau mungkin ia pernah punya pekerjaan, tetapi yaitu tadi – ia dapat merasakan siapapun dengan penuh kesadaran berkesimpulan: Ah itu bukan pekerjaan. Ya sudah, yang penting ia tidak sedang menipu, juga tidak sedang minta dipercayai oleh siapapun.

Perjalanan tanpa tujuan itu di mulai. Sehabis subuh, kesal ngantuk belum juga tiba ia memutuskan menuju bandara. Bandara tempat paling sedih di dunia, ia pernah membaca tulisan tentang itu dan ia setuju, sekarang ia merasa harus berkunjung kesana.

Membeli tiket kereta menuju bandara merupakan uang keluar yang lumayan untuk seorang yang tidak mempunyai pekerjaan. Hahaha, dia tertawa dalam hati, menertawakan diri sendiri – juga menertawakan orang-orang disekitarnya: orang-orang berpakaian rapi lengkap dengan tas kerja dan tas pakaian. Dari wajah-wajah kantuk dan kaku itu, seolah tergambar kalau hidup mereka sudah terbeli oleh tiket penerbangan yang mereka simpan di email atau kantong baju. Hahaha, kembali ia tertawa dalam hati, tawa yang menghakimi.

Di kupingnya mengalun lagu Creep-nya-Radiohead, lagu yang dipercaya siapapun yang nyaman dengan lagu tersebut pasti hidupnya bermasalah. Ia tidak berbicara dengan siapapun di kereta tersebut, dengan mengecilkan volume suara mp3 di handphone-nya ia sempat menguping pembicaraan tetangganya: ‘saya akan sampai 3 jam lagi, kamu siap-siap ya, kita tidak akan keluar kamar seharian’ dilihatnya seorang pria tua berpakaian dinas dibalut jaket cokelat sedang menelepon dengan produk terbaru keluaran apple. Kamu tau apa yang ia pikirannya saat itu? Sebenarnya ia tidak berpikir, hanya membayangkan kecewanya para pembayar pajak yang uangnya dipakai untuk biaya selingkuh pejabat negara. Sejak mendengar perbincangan tersebut ngantuk kompak tiba bersama lapar, ia memutuskan coffee shop bandara adalah tujuan berikutnya.

Di kedai kopi bermerek internasional itu ia memesan kopi paling murah tanpa gula dan sepotong cake rasa alpukat yang membuat ngantuknya seketika hilang – pesanan tersebut harus di tebus dengan harga yang sangat lumayan bagi seorang yang tidak mempunyai pekerjaan. Di aduknya cairan hitam itu, di sedunya perlahanan, saat bibirnya menyentuh bibir gelas ia melihat bayangan wajahnya disana, rasanya pahit, pahit sekali.

Diletakkannya kembali cangkir kopi itu di meja, ia harus menghemat tegukannya, kopi mahal itu – bila tidak sabar – dalam hitungan matematika cukup 10 tegukan menghabiskannya. Pandangannya lalu menyebar, kepalanya mulai membangun cerita tentang manusia-manusia yang ada di warung kopi internasional itu. Duduk dipojok belakang ada seorang anak muda, jaket merah ketat dengan jeans koyak dilututnya. Dengan mudah ia coba memberi identitas kepada anak muda tersebut: hidup bersama orangtua yang kaya raya, sekarang ia sedang ogah-ogahan menempuh perjalanan untuk kuliah, atau sebagai wisudawan baru ia mungkin sedang ada panggilan tes untuk mencoba peruntungan di luar kota. Atau laki-laki yang terlihat sedang resah hatinya itu, sedang menunggu perjalanan menjumpai kekasih hatinya untuk menjelaskan hal yang penting. Selain terlihat resah memikirkan sesuatu, anak muda ini juga terlihat berteman baik dengan smartphone ditangannya.

Di sebelah kiri, selang dua meja ada seorang laki-laki berumur. Kacamata diletakannya di meja, iya memesan air mineral dan beberapa tumpukan kecil makanan, ‘saya tidak bisa minum kopi’ begitu jawabannya saat pramusaji menawarkan apakah beliau ingin mencoba kopi terbaik mereka. Bapak tersebut juga sibuk dengan handphone-nya, ia menghubungi beberapa orang seperti mencoba memastikan banyak hal. Di lihat dari tampilannya, bisa jadi pria tersebut adalah manager di perusahaan multinasional, atau kontraktor proyek dunia akhirat yang sedang mencari mangsa baru, atau pejabat negara calon tersangka KPK, dan juga tidak menutup kemungkinan kalau ia seorang bapak yang akan menempuh perjalanan jauh untuk menjadi wali atas pernikahan putrinya. Dahinya tampak berkerut, pandangannya jauh, lama ia mengusap-usap kacamatanya, sepertinya ada sesuatu yang serius di balik penerbangannya.

Tepat dua meja di depan tampak jelas ada seorang wanita dengan blazzer hitam, rok nya selutut, lipstiknya warna merah tua. Wajahnya cemas. Mungkin pesawatnya harus delay karena alasan teknis, atau ia baru saja menghabiskan malam yang hebat di ranjang barsama selingkuhannya lalu telat bangun dan harus membeli tiket penerbangan yang baru. Atau perempuan itu punya agenda meeting penting di kota yang ia tuju, atau jangan-jangan tadi sewaktu dalam perjalanan yang harusnya menuju kantor ia mendapat kabar duka dan langsung memutar arah menuju bandara. Raut muka perempuan itu menggambarkan kalau sekarang baginya waktu berjalan sangat lambat karena ia tidak mempunyai jet pribadi.

Keriuhan kecil terjadi di sudut coffee shop. Seorang pramusaji wanita menumpahkan pesanan pelanggannya, ia mengulang-ulang permintaan maafnya, dengan cekatan ia membersihkan meja yang kotor karena keteledorannya itu. Tidak lama setelah pesanan diganti, pramusaji perempuan itu dipanggil seorang laki-laki gemulai, mungkin itu adalah bos kecil atau orang yang bertanggung jawab atas operasional serta nama baik kedai kopi mahal ini. Mengejutkan, karena tidak lama setelah perbincangan yang tidak terdengar tersebut, pramusaji perempuan itu dengan pakaian biasa keluar begitu saja – jalan bergegas dengan wajah tertunduk. Apa yang terjadi tadi? Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya ada hal serius yang telah terjadi.

Perempuan itu, mungkin masih kurang tidur, atau tadi sewaktu ganti pakaian kerja di kamar mandi cincin pertunangannya terlepas dan masuk ke lubang toilet – lalu ia menjadi sangat galau, atau laki-laki yang ia sayangi setengah mati tadi malam mengaku kalau ia tidak bisa bercinta dengan lawan jenis, atau tabungan yang selama ini ia kumpulkan baru saja habis karena tertipu undian berhadiah, atau perawannya baru saja rusak semalam, atau jangan-jangan ia sedang merasa bersalah sama tuhan karena tega tidak meluangkan waktu lima menit untuk sejenak sholat subuh karena ia lebih takut telat sampai di tempat kerjanya. Atau ada hal lain? Hanya tuhan, laki-laki gemulai itu, dan ia yang tau.

Tidak berapa lama ada pelanggan baru masuk. Dengan tampang ceria, sambil memesan ia mencoba membangun obrolan dengan membuat celotehan-celotehan garing yang pada akhirnya hanya dibalas senyum sekedarnya oleh kasir kedai kopi mahal ini. Sambil membawa pesanannya menuju meja yang kosong terdengar lagu I Started a Joke nya The Bee Gees menjadi soundtrack pagi perempuan yang masih terlihat muda itu. Gadis itu mengeluarkan sebuah buku dari tas ranselnya, mungkin sejenis buku motivasi dari kesuksesan tokoh-tokoh terkenal, atau buku tentang step by step merakit bom nuklir untuk di terbangkan ke orang-orang yang melukai hatinya, atau mungkin yang dibacanya sebuah novel yang penuh dengan cerita hampa – kisah kasih yang berakhir karena kesenjangan ekonomi atau yang lebih parah: sebuah kisah percintaan tanpa keyakinan untuk hidup bersama.

Atau jangan-jangan sebenarnya hati perempuan itu sedang senang gembira, dan ia sedang mencoba menyebarkannya ke banyak orang. Juga, bisa jadi ia sedang bersenang karena penerbangan yang akan ditempuhnya membawa ia ke kampus idamannya di luar negeri, atau sebuah liburan yang di inginkan banyak orang. Atau ia telah menyakinkan orangtuanya untuk berhenti bertanya ‘kamu kapan menikah?, ia baru saja berhasil lari dari sebuah rencana perjodohan yang tidak menyenangkan. Ya seperti biasa, perempuan memang susah ditebak apalagi cuma dari tampangnya.

Tiba-tiba ada SMS masuk.
Sebut saja orang lain: Dimana cuy? Ngopi yuk?
Ia: Di bandara.. Ini lagi ngopi.. 
Sebut saja orang lain: Wah ngapain? Mau kemana cuy?
Ia: Nggak ngapa-ngapain.. Nggak mau kemana-mana juga..
Sebut saja orang lain: Lah.. Kalo random nggak gitu juga kali cuy..
Ia: Hmm…

Beranjak dari kedai kopi bermerek internasional itu di belinya tiket kereta untuk kembali – meninggalkan bandara yang merupakan tempat paling sedih di dunia. Di rogohnya uang dikantong celana, sisa dua puluh ribu, ‘Ah cukuplah ini untuk makan nasi padang dan sekali minum kopi lagi’ ucap pikirannya dalam hati. Sepanjang jalan di kereta cepat itu hatinya terus bergemuruh: ‘Life is simple, it’s just not easy. Tuhan lindungi aku dari segala yang aku mau, yang aku inginkan namun jauh dari segala kebaikan’.

Semoga, ada, amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s