Yuk bantu Papua!

Di suatu makan siang, Anggi mengabarkan kalo ada temannya yang jadi relawan untuk mengajar di Papua. Kabar yang menghadirkan ketakjuban, menyisihkan umur – tenaga – dan banyak hal menarik lainnya untuk memilih bersusah payah mengenalkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak kecil di Papua. Jauh dari keluarga, teman, juga segala kemudahan.

Salah satu adik, yang dari SMA mendapatkan pendidikan gratis, setelah menyelesaikan beasiswa eropanya tujuan pertamanya adalah mendaftar Indonesia Mengajar. Niat yang sangat baik, yang di keluarga disambut dengan respon ‘coba pikir-pikir lagi..’ dan mencoba untuk memberi masukan yang lebih normal, misalnya menyarankan untuk tetap di eropa untuk bekerja atau lanjut belajar lagi, atau balik ke Indonesia lalu melamar pekerjaan yang jauh lebih seru. Tetapi, dia merasa yang selama ini dia dapat harus dikembalikan, untuk itu dia bersedia hidup setahun di pedalaman Kalimantan. Untuk sampai ditempat itu, setelah mendarat di sebuah bandara kecil dari perjalanan 4 jam di udara dari Jakarta, perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan darat yang kacau selama 20 jam menuju desa terdekat sebelum melanjutkan perjalanan 2 jam lagi naik perahu kecil membelah sungai kapuas menuju tempat dia bertugas. Dia bercerita, pernah tengah perjalanan darat mobil yang mereka tumpangi harus parkir karena jalan yang belum di aspal oleh negara rusak parah tidak bisa dilewati karena hujan, di dalam mobil di tengah hutan itu pemandangannya menarik sekali: hewan-hewan liar. Pemandangan pertama saat memasuki mini bus yang menjadi satu-satunya transportasi darat disana, adalah plastik kresek – untuk menampung muntahan, kabarnya jarang ada yang selamat dari rasa mual dalam perjalanan panjang itu. Pasrah menjadi pilihan satu-satunya bagi seseorang yang tidak bisa berenang saat mengarungi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.

Balik dari Eropa, tinggal di hutan tanpa sinyal, dengan listrik yang hanya bisa di nikmati pada malam hari, dan harus sepenuh hati menjalankan tugasnya disana: mendidik anak-anak terpencil, berbaur dan terlibat di masyarakat Suku Dayak, dan semua kebutuhan sehari-hari harus disiapkan sendiri (karena tidak ada restoran cepat saji, warung nasi padang, atau laundry disana, hahaha). Aku tidak tanya perjalanan seperti apa yang sudah dilewati temannya Anggi menuju pengabdiannya di Papua, tetapi seperti yang kita tau di Indonesia banyak manusia seperti itu: yang memutuskan tidak terus-menerus berkomentar, tidak terus-menerus mencari pihak mana yang harus di salahkan, tidak berputus asa atas semua ketimpangan – kekacauan – ketidakadilan yang terjadi di Indonesia sampai saat ini. Mereka memilih memberikan apa yang bisa lakukan.

Anggi meneruskan cerita, kalau dari temannya itu ia mendapat informasi kalau anak-anak disana sangat kekurangan buku dan alat tulis, mereka hanya punya paling banyak 2 pasang pakaian, dan anak-anak itu tidak memakai pakaian dalam – karena tidak punya. Setelah mencuci pakaian biasanya mereka meletakkannya diatas batu, cara tersebut ditempuh agar jemuran tersebut cepat kering, pakaian yang mungkin ditunggui dalam keadaan (maaf) bugil itu, setelah kering langsung dipakai kembali. Jadi sewaktu ditanya ‘kenapa pakaiannya itu-itu aja? kenapa gak di ganti?’ jawabannya karena mereka tidak punya. Bayangkan saban hari cuma itu yang mereka punya, betapa hidup kita sangat jauh lebih baik dari mereka.

photo 5 (16)

photo 4 (13)

photo 3 (16)

photo 2 (13)

photo 1 (18)

Papua kaya raya? Freeport kapan angkat kaki dari sana? Di sekitar kita masih banyak yang harus di bantu? Negara kemana aja, kok masyarakatnya menyedihkan sekali? Pemerintah daerah ngapain aja? Permasalahan Palestina dan Israel kenapa belum kelar-kelar juga? Kenapa angka populasi jomblo stagnan bahkan cenderung meningkat?

Mari sambil mencicil jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kita mengumpulkan pakaian yang masih layak tetapi sudah tidak terpakai, uang ke bioskop atau ngopi di starbucks minggu ini mari di sisihkan sedikit untuk kita patungan beli buku dan alat tulis – beli pakaian dalam – lalu mengirimkannya ke Papua. Nanti saat sumbangan kita tiba disana, pasti mereka bahagia karena akhirnya tau kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya pakaian dalam – yang bentuknya segitiga itu. Hal sederhana bagi kita, tapi kemewahan bagi mereka.

Dan, untuk kebaikan-kebaikan yang mau disumbangkan ke adik-adik di Papua tersebut, kamu bisa langsung kontak Anggi (via line: anggigurning), atau bila ingin bertanya lebih mendalam bisa hubungi Tika Barus di 081360073720.

Ada sekitar 300 anak-anak Papua yang menunggu kebaikan hati kamu. Yuk #BantuPapua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s