Apa Betul No Pressure?

Hore! Setelah 44 tahun, baru kali ini Spanyol jadi juara turnamen sepakbola. Berarti sejak saman Franco, baru sekarang ini menang. Untung saja tidak disimpulkan bahwa ternyata sistem fasis lebih baik buat sepakbola. Jelas tidak benar. Buktinya, meski Hitler dan Mussolini sudah tidak lagi berkuasa, Jerman dan Itali masih menang terus. Cuma, kalau dibilang dibawah fasis banyak tekanan, bukan berarti pada zaman demokrasi Spanyol tak ada pressure. Makin berprestasi, makin banyak pula tuntutan prestasi. Buktinya, baru saja usai merayakan kemenangan di Vienna dan Madrid, orang sudah bicara Piala Dunia 2010. Di Berlin, Jerman tidak merasa kalah. Mereka menafsirkan posisi nomor dua di Euro 2008 sebagai modal untuk mengejar gelar juara di Afrika Selatan, tempat ajang Piala Dunia 2010 digelar. Kalah tidak berarti tekanan berkurang, menang pun juga begitu.

Ada atau tidaknya pressure, sebetulnya bukan berasal dari luar, melainkan dari perasaan sendiri. Orang yang menghadapi atasan yang baik bisa merasa relaks karena sering mendapat pujian. Kalau orang cepat puas maka dia menjadi tenang karena pujian itu. Tapi kalau orang yang senang berprestasi makin dipuji, makin banyak pressure buat dia. Ada penulis yang sangat berbakat diberi tugas menulis setiap hari untuk sebuah publikasi prestisius, tidak disangka, tulisan pertamanya bagus sekali sehingga tidak perlu diedit lagi. Penulis itu gembira sekali, apalagi ketika pembimbingnya bilang ‘Sudah, kamu bisa santai menulis tiap hari, no pressure.’. Meskipun gembira si penulis berbakat ini mengaku malah tambah pressure sebab mulai sekarang mutu tulisannya tak boleh turun.

Orang yang dikenal sebagai orang baik akan banyak senyumnya meski menderita tekanan. Itu kalau dia benar-benar baik, sebab dia tak ingin mengecewakan orang dengan kelihatan bete. Merosot sedikit keramahannya orang sudah kecewa. Pada zaman saat dimana kamera ada dimana-mana seperti di handphone hingga laptop, orang harus selalu tersenyum kalau tak mau kepergok berwajah bengis, sekalipun misalnya; koper dia hilang di bandara. Penjaga gawang yang punya reputasi ‘clean sheet’, tidak kebobolan, tegang sekali kalau bola mendekati gawangnya walaupun kesebelasannya sedang unggul 3-0. Orang yang pintar memanjat gunung hanya cukup tergelincir sekali untuk kehilangan nama baiknya sebagai orang yang selalu berhasil.

Pada tahun 60-an, puluhan ribu pemuda Amerika Serikat dan Eropa bosan dengan pressure dan melakukan gerakan melawanan prestasi. Make love, not war, kata mereka. Karena itu harus dihilangkan pressure masyarakat yang menghasilkan perang. Tapi, love juga pressure karena mencari teman. Gerakan 1960-an itu ciptaan Bob Dylan dan politik Chicago Seven yang melawan kemapanan. Tapi, 30 tahun kemudian para hippies itu sudah jadi pialang saham di Wall Street dan politikus dalam sistem.

Pressure menciptakan pressure. Prestasi melahirkan ekspektasi untuk menjaga prestasi. Andy Murray muncul sebagai bintang Inggris baru, kelihatan sekali lepas pressure sewaktu berhasil membalikkan angka dari 0-2 menjadi 3-2. Tapi, dua hari kemudian ketika bertemu Nadal, hancur kepercayaan dirinya. Tidak ada sikap no pressure. Dalam turnamen tenis Wimbledon ataupun turnamen sepakbola Euro 2008, pressure tidak lepas sampai kita jadi juara. Pilihan lain adalah menyerah kalah sehingga kita tidak dibebani ekspektasi menang lagi.

Kehidupan keseharian tidaklah demikian. Tidak ada menang atau kalah. Yang ada, ketenangan diri untuk bisa merasakan no pressure walaupun pressure berdatangan dari segala penjuru.

– Wimar Witoelar, disalin dari buku ‘More About Nothing’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s