Menjadi Bandit Saja.

Sebenarnya saya, kamu, kalian, dan juga kita tidak pernah terlalu hancur untuk terpuruk saat menerima takdir bahwa Nia Ramadhani lalu Dian Sastro dengan raut muka termanis berbicara kepada media, ya inilah pasangan hidup saya.

Cerita siapa pasangan hidup mereka sudah selesai. Tidak baik beragumen gosip tentang itu, kadang terlihat norma saja, walau juga terkadang sangat abstrak, maka lebih baik mari kita tertawa saja. Hahahaa!

Hal penting yang bisa kita dapat adalah; bila kita seorang bandit maka menurut hipotesa saat ini besar kemungkinan anak kita nantinya mendapatkan wanita secihuy Dian Sastro, dan anak kita juga bisa menghentikan laju megabintang (yah, sinetron on mode) sekelas Nia Ramadhani, ‘sekarang kegiatan rumah tangga saja, menyiapkan segala sesuatunya kalau saya pulang kantor’ ujar Ardie anaknya Abu Rizal Bakrie.

Intinya, kini harapan ada pada anak-anak kita, maka sebagai bapak (dan calon bapak) yang baik marilah kita menjadi bandit atau konglomerat. Ingatlah apa yang dikatakan Dian Sasto, ‘saya sudah berketetapan hati untuk menikah dengan salah satu anak dari bapak Adiguna Sutowo’,  keretakan terjadi dibanyak hati.

Sebenarnya yang ingin di tulis di sini adalah kisah yang terjadi siang tadi. Tentang kehancuran, nafas yang tertahan, mulut yang terus mengucap, hati yang tidak bisa menuntut otak atas keputusannya untuk tetap duduk menyia-nyikan senyuman, tanda bahwa mungkin saja ia ingin di sapa.

Takut. Apalagi saat memantaskan diri, pekerjaan membunuh nomor satu untuk menghadirkan keberanian. Bertanya kira-kira apa pendapat manusia lain, meminta bantuan, diam di tempat, menambah keterpurukan. Seperti sarjana ber IPK 4 (empat) yang ingin berwirausaha.

Padahal, apa-apa yang buruk belum tentu terjadi, walau detik-detik awal berkenalan bisa sangat membunuh, memutuskan datang memberi tangan menyebutkan nama lalu blank bingung bagaimana memulai percakapan. Waktu (dan) senyuman berlalu, maka kamu selesai sampai disitu. luluh lantak, hancur minah.

Tuhan selalu bersama pemberani, dan Tuhan tidak bersama saya atau kita hari ini. Mungkin lain waktu kita merasa bandit saja, merasa konglomerat dengan tunggakan pajak triliunan, demi calon mamanya anak-anak kita! :))

Kopi Ong, 23 Mei 2010.  Ada perempuan berhidung mancung – rambut sebahu – tanpa anting dikupingnya, yang tahun lalu, akhirnya saya tau kalau dia juga dinikahi oleh salah satu anak bandit – kota ini. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s